Kenali Gejala dan Faktor Risiko Kanker Kolorektal

Pernahkah Anda mendengar kasus kanker kolorektal? Kanker kolorektal merupakan kanker yang terjadi pada usus besar atau rektum, sehingga sering disebut juga dengan kanker usus besar. Adapun rektum adalah saluran yang menghubungkan usus besar dengan anus.

Awal mulanya, ada tumbuh sel-sel yang abnormal di usus besar atau sekitar rektum yang disebut polip. Seiring berjalannya waktu, polip ini berkembang menjadi kanker. Apabila penderitanya mengetahui sejak awal adanya polip melalui tes skrining, maka bisa diangkat sebelum berkembang menjadi kanker ganas. Selain itu, pemeriksaan awal dapat mengobati kanker kolorektal sejak tahap awal, agar tidak berkembang menjadi lebih ganas lagi.

Tanda atau gejala kanker kolorektal.

Tanda-tanda yang akan Anda alami jika mengalami kanker kolorektal ini adalah sebagai berikut.

  • Perubahan kebiasaan buang air besar.
  • Diare atau sembelit.
  • Perasaan tidak tuntas setelah buang air besar.
  • Terdapat darah dalam tinja, sehingga tinja tampak hitam.
  • Keluar darah yang berasal dari rektum.
  • Mengalami nyeri dan kembung di perut.
  • Sering merasa kenyang, walaupun tidak makan beberapa waktu.
  • Tubuh sering merasa lelah.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Ada benjolan di sekitar perut yang dapat dirasakan oleh dokter.
  • Mengalami defisiensi zat besi.

Banyak penderita kanker kolorektal tidak mengalami gejala pada tahap awal penyakit. Saat gejala muncul, bisa bervariasi setiap orang, bergantung pada ukuran dan lokasi kanker di usus besar Anda. Bahkan, bisa saja gejala yang Anda alami ini menunjukkan kemungkinan kondisi lain. Oleh sebab itu, penting untuk menemui dokter jika gejala berlanjut hingga 4 minggu atau lebih.

Faktor risiko kanker kolorektal.

Seiring bertambahnya usia, risiko terkena kanker kolorektal akan semakin meningkat. Sekitar 90%,  kasus ini terjadi pada orang yang berusia 50 tahun atau lebih. Selain itu, faktor risiko terjadinya kanker usus besar adalah:

  • Ras Afrika-Amerika.

Orang Afrika-Amerika berisiko lebih tinggi mengalami kanker usus besar daripada orang dari ras lain.

  • Riwayat kanker kolorektal atau polip.

Jika Anda pernah mengalami kanker usus besar ataupu polip usus yang bersifat non-kanker, maka berisiko lebih tinggi mengalami kanker kolorektal di kemudian hari.

  • Mengalami radang usus.

Peradangan kronis pada usus besar juga dapat meningkatlkan risiko kanker kolorektal, seperti kolitis ulserativa dan penyakit Crohn.

  • Sindrom turunan.

Sindrom bawaan paling umum yang dapat meningkatkan risiko kanker usus besar adalah familial adenomatous polyposis (FAP) dan sindrom Lynch atau kanker kolorektal non-poliposis herediter.

  • Riwayat keluarga kanker usus besar.

Anda juga mungkin berisiko terkena kanker kolorektal jika memiliki saudara kandung yang menderita penyakit ini.

  • Diet rendah serat dan tinggi lemak.

Kanker usus besar dan kanker rektal dapat dipengaruhioleh pola makan khas Barat, di mana cenderung rendah serat, serta tinggi lemak dan kalori. Beberapa penelitian menemukan adanya peningkatan risiko kanker kolorektal pada orang yang sering mengonsumsi daging merah dan olahannya.

  • Sedentary lifestyle.

Gaya hidup yang tidak banyak bergerak atau tidak aktif lebih berisiko tinggi mengalami kanker usus besar dibandingkan orang yang aktif berolahraga.

  • Terapi radiasi untuk kanker.

Jika Anda pernah menjalani terapi radiasi di sekitar perut untuk mengobati kanker sebelumnya, maka risiko kanker kolorektal akan semakin tinggi.

Selain itu, orang yang memiliki penyakit diabetes, obesitas, suka merokok, dan minuman beralkohol juga dapat meningkatkan risiko serangan kanker kolorektal.  

Baik Anda, keluarga Anda, atau siapa pun itu dapat berisiko mengalami hal ini. Maka dari itu, penting untuk mengetahui gejala dan faktor risiko kanker kolorektal, supaya dapat dicegah dan diobati sedini mungkin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *