Apakah Efektif Melakukan Pijat Sakit Gigi?

Sakit gigi merupakan salah satu kondisi yang diyakini banyak orang sangat mengganggu, terlebih bagi mereka yang memiliki kewajiban bekerja maupun beraktivitas setiap harinya. Untuk meredakan kondisi ini, banyak orang pergi ke dokter gigi dan mengonsumsi obat pereda. Namun, tak jarang pula orang menggunakan pijat sakit gigi untuk meredakan kondisi tersebut.

Akupresur menjadi metode untuk mengatasi nyeri termasuk salah satunya pada sakit gigi sejak dahulu. Tekanan pada titik akupresur pada tubuh mampu dimanfaatkan dalam melancarkan aliran darah dan membuat otot di sekitar mulut lebih rileks, sehingga sakit gigi juga akan berangsur membaik hingga hilang.

Pijat Sakit Gigi

Sakit gigi muncuk karena saraf pada gigi menjadi rusak atau adanya iritasi, saraf ini kemudian memberi sinyal ke otak dan memunculkan rasa sakit seperti yang dialami seseorang tersebut. Meski demikian, pijat untuk sakit gigi tidak mampu digunakan untuk mengatasi penyebab gigi sakit. Untuk meringankan sakit, terdapat beberapa titik yang harus mendapat pijatan seperti berikut ini.

  • Tulang Pipi

Titik pijatan pada area ini disebut dengan quanliao atau celah tulang pipi, tepatnya berada di bawah tulang pipi. Dalam menentukan quanliao, harus bisa menarik garis langsung dari sudut luar mata ke lekukan tulang pipi. Fungsi pijatan ini adalah untuk meringankan sakit gigi serta keadaan hidung tersumbat.

  • Tulang Rahang

Disebut juga jiache dan diartikan sebagai tulang rahang, adalah titik pijat yang berfungsi untuk meredakan nyeri. Titiknya berada di antara sudut mulut dan bagian bawah daun telinga, pijatan ini harus dengan mengepalkan rahang, sehingga dapat merasakan otot-otot yang terteuk di pipi, fungsi pijatan ini adalah untuk membantu gejala sakit, pembengkakan dan mengurangi kejang.

  • Antara Ibu Jari dan Telunjuk

Titik pijat ini berada di antara ibu jari dan telunjuk, fungsi dari melakukan pijatan ini adalah membanu meredakan sakit gigi, sakit kepala dan sakit lain di area wajah. Termasuk meredakan peradangan, namun demikian titik pijat di area ini sangat tidak dianjurkan oleh ibu hamil.

  • Otot Bahu

Titik selanjutnya adalah pada otot bahu atau berada di antara leher dan ujung bahu, fungsinya juga masih sama yakni meredakan rasa sakit yang muncul. Bisa dengan melakukan gerakan mencubit menggunakan ibu jari dan jari tengah, lalu memberi tekanan pada jari telunjuk, sambil perlaghan melepaskan cubitan.

Efektifitas Pijat untuk Sakit Gigi

Dalam sebuah tinjauan yang dicatat, World Health Organization (WHO) telah mendaftarkan teknik pemijatan atau akupuntur dan akupresur sebagai perawatan efektif untuk sakit gigi pada tahun 2003. Akupresur merupakan bentuk pengobatan alami dan holistik, tindakan memberi tekanan pada titik tertentu di tubuh.

Tekanan yang memberi sinyal pada tubuh untuk bisa meredakan ketegangan, mengatasi aliran darah dan mengurangi rasa sakit. Seseorang bisa melakukan teknik pijatan dengan sendirinya, dibantu teman hingga mengunjungi pemijatan profesional. Termasuk dalam salah satu cara mengobati sakit gigi.

Meski demikian, seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa teknik pemijatan tidak dapat digunakan untuk mengatasi penyebab dari munculnya sakit gigi. Teknik ini lebih kepada mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan dan disebabkan karena sakit gigi dalam waktu yang sementara.

Perlu diketahui jika pijat sakit gigi tidak boleh digunakan sebagai pengganti kunjungan ke dokter gigi, namun hanya bisa dilakukan untuk mengurangi rasa sakit sementara hingga penderita memeriksakan diri ke dokter sebagi upaya penanganan dan pengobatan untuk kesembuhan.

Obat Herbal Terbaik untuk Lawan Aktinomikosis Paru

Menjadi salah satu jenis infeksi yang tak banyak orang tahu dan menyebabkan banyak orang awam karena memang tak memiliki penjelasan tentang bagaimana cara mengatasi aktinomikosis paru. Merupakan infeksi ganas yang bisa memberi efek kematian bagi tubuh, ketidaktahuan banyak orang mengenai penyakit ini membuat pengobatan yang dilakukan gagal.

Aktinomikosis pada paru merupakaninfeksi bakteri pada paru-paru yang jarang terjadi, penyakit ini tidak menular. Kondisi yang terjadi pada orang yang berusia antara 30 hingga 60 tahun, selain itu penyakit ini lebih sering terjadi para laki-laki ketimbang perempuan. Penyebab penyakit ini adalah bakteri dari jenis Actinomyces.

Obat Herbal Terbaik Aktinomikosis Paru

Terapi obat herbal merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengatasi kondisi ini selain dengan operasi. Obat herbat mampu mengatasi peradangan dan abses, terutama untuk menyerang bakteri yang menginfeksi tubuh dan meningkatkan imunitas guna mendorong daya lawan tubuh terhadap serangan bakteri.

Salah satu obat herbal yang direkomendaskan dan layak menjadi pilihan penderita penyakit ini adalah Noni Juice. Merupakan sari buah yang berasal dari buah noni atau mengkudu, jenis buah yang masih satu kerabat dengan tanaman kopi –kopian dengan bentuk bulat tetapi tidak sempurna dengan jonjot di mata permukaan.

Buah ini memiliki aroma dan rasa yang khas dan memang banyak orang tidak suka, hal ini juga sekaligus tanda mudah untuk mengenali buah ini. Meski tak menarik dari sisi penampilan dan rasaya, buah ini menyimpan rahasa penyembuhan terhadap beragam jenis penyakit akibat infeksi berat, termasuk dari aktinomikosis pada paru-paru.

Kemampuan obat ini sebagai obat untuk menangani infeksi sudah teruji klinis dalam beberapa penelitian yang dilakukan di Universitas Hawaii, Univesitas Michigan dan beberapa lembaga penelitian di LIPI. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat senyawa scolopetin dalam buah noni yang mengandung asam kaprat dan asam kaproat.

Scolopetin akan bekerja sebagai antibakteri, antibiotik, anti alergi dan mampu meningkatkan imunitas yang efektif. Adapula kandungan terpenoid yang baik untuk memicu regenerasi sel, sehingga dapat memperbaiki kerusakan sel pada abses yang muncul karena infeks ini. Kandungan alkonoid juga terbukti ampuh sebagai antiinflamasi alias obat antiperadangan.

Kandungan tersebut sangat efektif untuk mengatasi fiskula dan abses yang muncul dalam organ, selain itu buah noni juga tinggi akan vitamin B dan C. Vitamin ini berperan besar dalam proses penyembuhan pasien, membantu memulihkan kondisi tubuh, mengatasi efek lemas karena infeksi serta membantu meningkatkan kualitas daya tahan tubuh alias imunitas.

Perpaduan baik antara vitamin, mineral dan beragam senyawa unikdengan khasiat tinggi jelas membuat buah noni merupakan obat herbal terbaik untuk aktinomikosis pada paru. Untuk menambah efektifnya obat herbal, perlu adanya pencegahan yang harus dilakukan oleh pasien. Bisa dengan menjaga keberhsihan gigi dan mengurangi konsumsi makanan manis.

Tujuan dilakukannya hal itu adalah membantu mencegah infeksi dan penyebaran ke bagian tubuh lain, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi dengan dokter. Terutama ketika mengalami beberapa gejala aktinomikosis paru, gejala akan bertambah parah meskipun pasien sudah menjalani pengobatan.

Selain obat herbal, aktinomikosis pada paru bisa disembuhkan dengan menggunakan antibiotik seperti penisilin atau pelaksanaan prosedur operasi. Tujuan dilakukan adalah untuk mengatasi kerusakan jaringan pada paru-paru penderita penyakit ini. Jika tidak segera diobati maka bagian dari paru-paru penderita bisa mengalami luka secara permanen.

Kenali Gejala dan Faktor Risiko Kanker Kolorektal

Pernahkah Anda mendengar kasus kanker kolorektal? Kanker kolorektal merupakan kanker yang terjadi pada usus besar atau rektum, sehingga sering disebut juga dengan kanker usus besar. Adapun rektum adalah saluran yang menghubungkan usus besar dengan anus.

Awal mulanya, ada tumbuh sel-sel yang abnormal di usus besar atau sekitar rektum yang disebut polip. Seiring berjalannya waktu, polip ini berkembang menjadi kanker. Apabila penderitanya mengetahui sejak awal adanya polip melalui tes skrining, maka bisa diangkat sebelum berkembang menjadi kanker ganas. Selain itu, pemeriksaan awal dapat mengobati kanker kolorektal sejak tahap awal, agar tidak berkembang menjadi lebih ganas lagi.

Tanda atau gejala kanker kolorektal.

Tanda-tanda yang akan Anda alami jika mengalami kanker kolorektal ini adalah sebagai berikut.

  • Perubahan kebiasaan buang air besar.
  • Diare atau sembelit.
  • Perasaan tidak tuntas setelah buang air besar.
  • Terdapat darah dalam tinja, sehingga tinja tampak hitam.
  • Keluar darah yang berasal dari rektum.
  • Mengalami nyeri dan kembung di perut.
  • Sering merasa kenyang, walaupun tidak makan beberapa waktu.
  • Tubuh sering merasa lelah.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Ada benjolan di sekitar perut yang dapat dirasakan oleh dokter.
  • Mengalami defisiensi zat besi.

Banyak penderita kanker kolorektal tidak mengalami gejala pada tahap awal penyakit. Saat gejala muncul, bisa bervariasi setiap orang, bergantung pada ukuran dan lokasi kanker di usus besar Anda. Bahkan, bisa saja gejala yang Anda alami ini menunjukkan kemungkinan kondisi lain. Oleh sebab itu, penting untuk menemui dokter jika gejala berlanjut hingga 4 minggu atau lebih.

Faktor risiko kanker kolorektal.

Seiring bertambahnya usia, risiko terkena kanker kolorektal akan semakin meningkat. Sekitar 90%,  kasus ini terjadi pada orang yang berusia 50 tahun atau lebih. Selain itu, faktor risiko terjadinya kanker usus besar adalah:

  • Ras Afrika-Amerika.

Orang Afrika-Amerika berisiko lebih tinggi mengalami kanker usus besar daripada orang dari ras lain.

  • Riwayat kanker kolorektal atau polip.

Jika Anda pernah mengalami kanker usus besar ataupu polip usus yang bersifat non-kanker, maka berisiko lebih tinggi mengalami kanker kolorektal di kemudian hari.

  • Mengalami radang usus.

Peradangan kronis pada usus besar juga dapat meningkatlkan risiko kanker kolorektal, seperti kolitis ulserativa dan penyakit Crohn.

  • Sindrom turunan.

Sindrom bawaan paling umum yang dapat meningkatkan risiko kanker usus besar adalah familial adenomatous polyposis (FAP) dan sindrom Lynch atau kanker kolorektal non-poliposis herediter.

  • Riwayat keluarga kanker usus besar.

Anda juga mungkin berisiko terkena kanker kolorektal jika memiliki saudara kandung yang menderita penyakit ini.

  • Diet rendah serat dan tinggi lemak.

Kanker usus besar dan kanker rektal dapat dipengaruhioleh pola makan khas Barat, di mana cenderung rendah serat, serta tinggi lemak dan kalori. Beberapa penelitian menemukan adanya peningkatan risiko kanker kolorektal pada orang yang sering mengonsumsi daging merah dan olahannya.

  • Sedentary lifestyle.

Gaya hidup yang tidak banyak bergerak atau tidak aktif lebih berisiko tinggi mengalami kanker usus besar dibandingkan orang yang aktif berolahraga.

  • Terapi radiasi untuk kanker.

Jika Anda pernah menjalani terapi radiasi di sekitar perut untuk mengobati kanker sebelumnya, maka risiko kanker kolorektal akan semakin tinggi.

Selain itu, orang yang memiliki penyakit diabetes, obesitas, suka merokok, dan minuman beralkohol juga dapat meningkatkan risiko serangan kanker kolorektal.  

Baik Anda, keluarga Anda, atau siapa pun itu dapat berisiko mengalami hal ini. Maka dari itu, penting untuk mengetahui gejala dan faktor risiko kanker kolorektal, supaya dapat dicegah dan diobati sedini mungkin.

8 Pemicu Peradangan Rektum

Jangan anggap remeh peradangan di bagian tubuh Anda. Jika dibiarkan, peradangan pada salah satu bagian tubuh nyataya bisa menjalar ke bagian lain dan menghasilkan gejala yang tidak menyenangkan. Tidak terkecuali ketika Anda mengalami peradangan rektum, pandangan sebelah mata tidak boleh dibiarkan ketika menghadapi inflamasi di sistem pencernaan bagian bawah yang menjadi tempat penyimpanan sementara feses.

Peradangan rektum kerap dikenal proktitis. Kondisi ini terjadi ketika terjadi inflamasi yang menyerang bagian lapisan rektum. Gejala awal yang dirasakan penderita proktitis adalah rasa ingin buang air yang terus berkelanjutan. Namun jika dibiarkan dan sudah mencapai tahap parah, peradangan di bagian rektum bisa membuat rasa sakit di bagian anus hingga menimbulkan diare akut.

Banyak pemicu yang membuat Anda bisa terkena peradangan rektum. Penyebab penyakit ini sangat berhubungan dengan sistem pencernaan Anda sekaligus tindakan medis yang pernah Anda peroleh sebelumnya. Yuk, kenali pemicu peradangan rektum guna bisa mengantisipasi penyakit ini menimpa Anda.

  1. Infeksi Menular Seksual

Orang-orang yang menderita penyakit infeksi menular seksual akan lebih rentan mengalami proktitis. Beberapa penyakit infeksi menular seksual yang mesti diwaspadai guna menghindari peradangan di rektum, seperti herpes genital, gonore, serta klamidia.

  • Seks Tidak Aman

Melakukan hubungan seks yang tidak amat akan membuat Anda rentan terkena peradangan rektum. Salah satu bentuk seks tidak aman adalah seringnya bergonta-ganti pasangan. Selain itu, kerap melakukan hubungan seks anal juga bisa meningkatkan risiko terkena proktits karena umumnya, orang-orang yang melakukan seks anal mudah tertular infeksi menular seksual.

  • Radang Usus

Peradangan yang terlambat diatasi bisa menyebar ke bagian lain yang dekat dengannya, tidak terkecuali bagi para penderita radang usung. Sekitar 30 prsen orang-orang yang mengalami peradangan usus nyatanya cepat atau lambat akan terkena peradangan rektum. Pasalnya, rektum sendiri merupakan bagian terakhir usus yang paling mendekati anus.

  • Konsumsi Antibiotik

Jangan sembarangan mengonsumsi antibiotik! Penggunaan antibiotik yang berlebihan ternyata juga menjadi salah satu pemicu peradangan rektum. Pasalnya, antibiotik cenderung membunuh bakteri baik yang ada di usus sehingga bakteri jahat yang menimbulkan peradangan justru berkembang. Ketika usus Anda akhirnya terkena inflamasi karena serangan bakteri jahat, risiko Anda mengalami proktitis pun semakin besar.

  • Tindakan Bedah

Jika pernah mengalami tindakan bedah khususnya di bagian usus, peradangan rektum akan lebih mudah menyerang Anda. Ini karena tindakan bedah pada usus kerap melibatkan pengalihan saluran feses yang memicu inflamasi pada saluran rektum Anda.

  • Terapi Radiasi

Terapi radiasi umumnya dijadikan salah satu tindakan penanganan untuk pasien kanker. Akan tetapi berhati-hatilah, selain bisa mencegah perkembangbiakan sel kanker, radiasi yang dilakukan juga bisa memicu peradangan. Pada pasien kanker prostat ataupun ovarium, terapi radiasi yang dilakukan akan turut menyentuh daerah sekitar rektum sehingga memicu proktitis.

  • Alergi Protein

Bayi umumnya memiliki alergi terhadap beberapa jenis makanan. Tidak sedikit pula anak yang memiliki intoleransi terkait produk protein dari susu sapi. “Alergi” yang dialami oleh bayi tersebut tidak boleh dipandang remeh sebab sangat rentan menimbulkan peradangan di bagian usus sampai ke bagian rektumnya.

  • Sel Darah Putih

Jumlah sel darah putih yang berlebihan sangat rentan menimbulkan peradangan rektum. Padalnya, sel darah putih yang berlebihan akan mengalir ke bagian saluran pencernaan dan cenderung menempel di dinding rektum. Penempelan ini membuat dinding rektum mudah mengalami inflamasi.

Jika sudah tahu pemicu suatu penyakit, tentu tindakan terbaik adalah berusaha menjauhi sumber-sumber tersebut agar tidak terserang penyakit yang tidak diinginkan. Tak terkecuali dengan peradangan rektum, menjadi langkah yang amat bijak untuk menghindari penyebabnya dibandingkan Anda harus berkompromi dengan rasa sakit yang ditimbulkan akibat peradangan tersebut.

Mengenal Limfedema

Limfedema adalah pembengkakan yang terjadi pada lengan atau kaki, akibat adanya penumpukan cairan

Limfedema mengacu pada pembengkakan yang umumnya terjadi di salah satu lengan atau kaki Anda. Terkadang kedua lengan atau kedua kaki bisa membengkak.

Limfedema paling umum disebabkan oleh pengangkatan atau kerusakan kelenjar getah bening Anda sebagai bagian dari perawatan kanker. Hal ini adalah hasil dari penyumbatan dalam sistem limfatik Anda, yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh Anda.  

Sistem limfatik tubuh Anda adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh Anda, yang melindungi Anda dari infeksi dan penyakit.  Sistem limfatik meliputi limpa, timus, kelenjar getah bening, dan saluran getah bening, serta amandel dan kelenjar gondok.

Sistem limfatik Anda sangat penting untuk menjaga tubuh Anda tetap sehat. Sistem limfatik mengedarkan cairan getah bening kaya protein di seluruh tubuh Anda, mengumpulkan bakteri, virus dan produk limbah. Sistem limfatik Anda membawa cairan ini dan zat berbahaya melalui pembuluh getah bening Anda, yang mengarah ke kelenjar getah bening. Limbah tersebut kemudian disaring oleh limfosit, sel yang melawan infeksi yang hidup di kelenjar getah bening Anda dan akhirnya keluar dari tubuh Anda.

Limfedema terjadi ketika pembuluh getah bening Anda tidak mampu mengalirkan cairan getah bening dengan baik, biasanya dari lengan atau kaki. Limfedema dapat bersifat primer atau sekunder. Kondisi ini berarti dapat terjadi sendiri (limfedema primer), atau dapat disebabkan oleh penyakit atau kondisi lain (limfedema sekunder).  Limfedema sekunder jauh lebih umum terjadi daripada limfedema primer.

Tanda dan gejala limfedema, yang terjadi pada lengan atau kaki Anda yang sakit, termasuk:

  • Pembengkakan sebagian atau seluruh lengan atau kaki Anda, termasuk jari tangan atau kaki
  • Perasaan berat atau ketat
  • Rentang gerak terbatas
  • Sakit atau tidak nyaman
  • Infeksi berulang
  • Pengerasan dan penebalan kulit (fibrosis)

Pembengkakan yang disebabkan oleh limfedema berkisar dari perubahan ringan pada ukuran lengan atau kaki Anda hingga perubahan ekstrem yang membuat anggota badan sulit digunakan. Limfedema yang disebabkan oleh pengobatan kanker mungkin tidak terjadi sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah pengobatan.

Limfedema tidak bisa disembuhkan, tetapi Anda bisa mengendalikan pembengkakan dan mencegahnya bertambah parah.  Mengalami berat badan yang sehat mungkin membuat limfedema membaik. Terapis limfedema khusus juga dapat membantu Anda mengelola kondisi ini. 

Jika kondisi limfedema Anda parah, dokter Anda mungkin ingin melakukan operasi untuk mengangkat beberapa jaringan sehingga pembengkakannya berkurang.  

Seperti Apa Gejala Penyakit Miom? Simak Informasi Berikut

Penyakit miom yang sering dikenal dengan tumor jinak dalam bahasa medis disebut mioma uteri, merupakan kondisi ketika terjadi pertumbuhan tumor non-kanker pada jaringan oto rahim (miometrium). Ukuran mioma yang tumbuh dapat bervariasi, dari yang berukuran kecil yang sulit terdeteksi hingga berukuran besar yang dapat mengakibatkan pembesaran rahim.

Umumnya, penyakit miom tidak memunculkan gejala yang signifikan. Namun, ketika suatu gejala muncul dapat berdampak terhadap kesuburan seseorang. Seperti apa gejala penyakit miom sebenarnya?

Gejala penyakit miom yang perlu diperhatikan

Sebagai antisipasi, berikut gejala penyakit miom yang perlu Anda waspadai:

  • Darah haid yang keluar dalam jumlah banyak atau berlebihan (menoragia) atau juga dapat berupa periode haid yang berlangsung dalam waktu yang lebih lama (metroragia).
  • Adanya tekanan pada kandung kemih. Mioma yang tumbuh dapat memberikan tekanan atau rasa ingin berkemih. Seseorang yang memiliki miom akan merasakan kesulitan ketika berkemih atau buang air kecil.
  • Tekanan pada rektum. Ketika kondisi ini terjadi, maka seseorang akan mengalami kesulitan air besar (sembelit).
  • Tekanan pada rongga panggul. Miom yang tumbuh dapat memberikan tekanan berlebih bagi rongga panggul, sehingga menimbulkan rasa nyeri pada bagian bawah atau pada perut. Kondisi ini juga sering disertai dengan nyeri pinggang atau nyeri pada tungkai bawah.
  • Adanya perubahan ukuran pinggang dan bentuk perut

Miom yang tumbuh ke arah dinding perut dapat mengakibatkan perubahan lingkar pinggang menjadi lebih besar. Kondisi ini juga dapat memicu benjolan pada dinding perut. Biasanya, seseorang akan merasa bahwa celana atau pakaian yang digunakan semakin sempit, walaupun dirasa tidak ada peningkatan berat badan.

  • Risiko gangguan kesuburan dan kehamilan

Mioma yang tidak diatasi meningkatkan risiko terjadinya infertilitas atau kondisi ketika seseorang tidak dapat hamil, walaupun telah melakukan program kehamilan selama setahun. Mioma tipe submukosa dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Selain itu, mioma juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman ketika dalam masa kehamilan, seperti nyeri perut, pertumbuhan janin yang terhambat, kelahiran prematur, kondisi sungsang, terlepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum waktunya, hingga keguguran.

Penting bagi Anda untuk mendeteksi penyakit miom sejak dini, sehingga dapat ditangani lebih awal dan mengurangi risiko komplikasi yang lebih parah.

Cara Mengatasi Kurap dengan Bahan Alami

Timbulnya kurap memang membuat kulit terasa gatal dan membuat Anda tidak percaya diri. Kurap sangat mengganggu apalagi jika kurap tersebut membandel. Selain salep kurap, ada cara alami yang bisa Anda lakukan untuk menghilangkan kurap. Obat kurap alami, umumnya lebih aman untuk Anda yang kulitnya cenderung sensitif.

Cara mengatasi kurang dengan bahan alami

  • Sabun dan air

Menjaga area yang kurap tetap bersih adalah keharusan untuk mempercepat proses penyembuhan kurap. Sebelum menggunakan bahan alami akan yang akan dibahas nanti atau sebelum menggunakan salep kurap, Anda wajib membersihkan area kurap dengan sabun anti bakteri. Setelah dibersihkan, pastikan area tersebut kering. Pasalnya, kondisi kulit yang lembap akan mempermudah kurap menyebar.

  • Cuka apel

Cuka apel atau apple cider vinegar dapat dengan mudah Anda temukan di supermarket. Cuka apel memiliki manfaat sebagai anti-jamur sehingga dapat membantu mengatasi kurap. Anda dapat menuangkan cuka apel ke kapas dan langsung mengaplikasikannya pada area yang berkurap 3 kali sehari.

  • Bawang putih

Bawang putih juga sering dipakai untuk mengatasi berbagai macam infeksi di kulit. Meskipun belum terbukti dalam penelitian, namun beberapa orang yang sudah mencobanya telah membuktikan manfaat terdapat kurap. Caranya, haluskan bawang putih dan campurkan dengan minyak kelapa atau minyak zaitun. Oleskan tipis-tips campuran ini pada area kurap dan tutup dengan kain kasa. Anda dapat melakukan ini 2 kali sehari sampai kurap sembuh.

  • Gel lidah buaya

Lidah buaya bermanfaat melawan infeksi bakteri maupun jamur. Selain mengatasi kurap, gel lidah buaya juga dapat membantu meredakan iritasi di kulit karena sifatnya yang dingin. Anda dapat mengaplikasikan gel lidah buaya langsung pada area kurap 3 kali dalam sehari.

  • Berbagai macam kurap

Minyak yang dapat Anda coba untuk mengatasi kurap adalah minyak kelapa, minyak serai, minyak oregano, dan tea tree oil. Minyak kelapa dan minyak serai dapat Anda langsung aplikasikan dengan kapas ke karena kurap tanpa campuran lain. Sebaliknya, tea tree oil dan minyak oregano harus diencerkan terlebih dahulu dengan larutan lain agar tidak mengiritasi.

Ketahui Hal Berikut Sebelum Gunakan Tetes Telinga Gentamicin

Pernahkah Anda mengalami infeksi liang telinga luar atau yang dalam bahasa medisnya otitis eksterna? Mungkin Anda tidak menyadari bahwa Anda pernah mengalami infeksi ini, namun sadar akan gejala seperti rasa nyeri pada telinga yang dapat muncul beberapa hari kemudian setelah mengorek-ngorek telinga. Rasa nyeri akibat infeksi ini terasa ketika menekan telinga bagian depan atau ketika menarik daun telinga.

Jika Anda berkonsultasi dengan dokter mengenai infeksi ini, kemungkinan besar dokter akan merekomendasikan antibiotik tetes telinga Gentamicin untuk membantu penyembuhan.

Menggunakan obat tetes untuk telinga tentu tidak dapat asal-asalan. Beberapa hal berikut perlu Anda tahu agar penyembuhan infeksi telinga tidak menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

Cara menggunakan tetes telinga yang tepat

Sebelum Anda menggunakan obat jenis apa pun, usahakan untuk selalu membaca keterangan obat yang tertera pada kemasan produk secara cermat.

Gentamicin termasuk dalam golongan antibiotik. Maka dari itu, Anda perlu untuk menggunakannya sesuai batas waktu yang telah ditentukan oleh dokter. Jika Anda menghentikan penggunaan obat ini terlalu dini, maka akan ada beberapa risiko yang mungkin muncul, termasuk risiko infeksi kambuh.

Berikut langkah-langkah menggunakan tetes telinga Gentamicin secara tepat:

  • Cuci tangan secara bersih dan menyeluruh dengan menggunakan sabun.
  • Baringkan atau atur posisi duduk tubuh dengan menghadap ke salah satu sisi (bergantung pada sisi telinga yang mengalami infeksi). Jika telinga kiri yang mengalami infeksi, maka miringkan kepala ke arah kanan, dan begitu sebaliknya.
  • Atur posisi obat tetes telinga agar tepat di atas telinga, sehingga tetesan obat dapat langsung menyentuh area infeksi.
  • Teteskan obat sesuai dengan resep dokter atau anjuran yang tertera dalam kemasan produk.
  • Hindari memegang ujung alat tetes telinga untuk menghindari kontaminasi.
  • Ketika obat telah selesai diteteskan, tunggu beberapa saat untuk meluruskan kepala.

Efek samping obat tetes Gentamicin

Sebagai catatan, obat tetes telinga Gentamicin dapat menyebabkan rasa panas sesaat pertama kali diteteskan pada telinga. Jika Anda mengalami reaksi setelah menggunakan obat ini, maka segera konsultasi dengan dokter.

Beberapa orang dengan kondisi tertentu seperti di bawah ini, dianjurkan untuk tidak menggunakan obat tetes apa pun, termasuk Gentamicin:

  • Infeksi Herpes Zoster pada telinga
  • Infeksi jamur di telinga
  • Infeksi virus pada telinga
  • Gendang telinga pecah
  • Alergi pada bahan yang terdapat dalam obat tetes telinga.

Apa itu Dispepsia dan Bagaimana Pengaruhnya pada Kesehatan?

Pernahkah Anda mendengar tentang dispepsia? Beberapa orang mungkin mengenalinya sebagai penyakit yang mengganggu pencernaan manusia. Kenyataannya, dispepsia adalah gangguan pencernaan yang terdiri atas kumpulan gejala dan keluhan yang menimbulkan rasa tidak nyaman pada perut bagian atas. Penderita dispepsia sering gejala merasakan mual, kembung, nyeri perut yang diikuti sensasi terbakar, dan juga perut begah atau sebah.

Secara garis besar, dispepsia dibagi menjadi dua tipe, yaitu dispepsia organik dan fungsional. Dispepsia organik adalah gangguan pencernaan yang dipicu oleh faktor tertentu yang telah diketahui secara jelas, seperti penyakit tukak lambung, gastroesophageal reflux disease maupun kanker. Sementara itu, dispepsia fungsional adalah gangguan pencernaan yang mana pemicunya tidak diketahui secara jelas, namun penderita masih tetap merasakan rasa pada perutnya.

Salah satu faktor yang memicu terjadinya dispepsia fungsional, yaitu akibat mengonsumsi makanan atau minuman tertentu. Beberapa makanan yang berisiko memicu dispepsia, yaitu makanan yang mengandung asam, berminyak, berlemak, dan juga yang memiliki rasa pedas. Di samping itu, seseorang yang terlalu sering mengonsumsi minuman yang mengandung kafein, alkohol, maupun bersoda, cenderung rentan mengalami rasa tidak nyaman akibat timbulnya dispepsia.

Tidak hanya makanan atau minuman tertentu, namun dispepsia juga dapat disebabkan oleh kebiasaan atau pola makan, seperti kebiasaan menghabiskan makan secara terburu-buru, porsi makanan yang terlalu banyak, hingga telat jadwal makan.

Keluhan atau gejala dispepsia untuk kasus yang ringan dapat reda setelah dua minggu perubahan pola hidup menjadi lebih sehat, antara lain menghindari makanan dan minuman yang telah disebutkan di atas. Sebagai alternatif, Anda direkomendasikan untuk mengonsumsi banyak sayuran dan buah-buahan. Kacang-kacangan dan makanan berserat juga turut membantu memulihkan kondisi Anda.

Dalam kasus tertentu, dispepsia dapat berujung pada penyakit serius, seperti kanker usus. Jika gejala tidak kunjung mereda dalam dua minggu, maka Anda perlu untuk berkonsultasi dengan dokter, sehingga dapat dilakukan penanganan lebih awal. Terutama bagi kelompok usia lanjut di atas 50 tahun, jika mengalami gejala dispepsia yang diikuti dengan penurunan berat badan, kesulitan ketika menelan, muntah-muntah, hingga tinja berwarna hitam, segera konsultasi dengan dokter. Dokter nantinya akan melakukan pemeriksaan, seperti pemeriksaan laboratorium, endoskopi, X-ray, maupun CT scan.

Sudah Pernah Terkena Cacar Air? Hati-Hati Terinfeksi Cacar Api di Kemudian Hari

Salah satu penyakit yang umumnya menginfeksi anak kecil, yaitu cacar air. Jika Anda pernah terinfeksi cacar air, ada baiknya Anda tetap berhati-hati jika terinfeksi cacar di kemudian hari. Perlu diperhatikan, cacar yang mungkin akan timbul adalah cacar api atau yang dikenal sebagai herpes zoster.

Ketika seseorang dinyatakan telah bersih dari cacar air, virus penyebab cacar, varicella zoster, tidak semata-mata hilang dari dalam tubuh. Melainkan, ia berdiam dalam tubuh dalam keadaan tidak aktif. Namun, virus tersebut dapat kembali menginfeksi ketika tubuh sedang tidak dalam kondisi terbaik. Lalu, apa yang menjadi gejala cacar api dan bagaimana mencegahnya?

Seperti apa gejala cacar api?

Baik itu cacar air, maupun cacar api, kedua penyakit ini disebabkan oleh virus yang sama, namun dengan gejala yang berbeda antara satu dengan lainnya. Gejala yang disebabkan oleh cacar air dapat berupa bintil-bintil yang berisikan air yang timbul pada seluruh tubuh dan disertai rasa gatal. Sementara itu, gejala cacar api berupa bintil atau ruam yang hanya muncul pada area kulit tertentu yang biasanya diikuti dengan rasa gatal dan nyeri seperti terbakar. Rasa nyeri tersebut dapat bertahan berbulan-bulan, bahkan setelah bintil atau ruam telah hilang dari kulit.

Infeksi dari virus varicella menginfeksi tubuh yang mengalami penurunan kekebalan tubuh. Umumnya, kondisi tubuh yang tidak prima disebabkan kelelahan akibat bekerja atau beraktivitas yang tidak diseimbangi dengan pola makan sehat. Faktor lain, seperti kurang berolahraga dan stres juga dapat memicu penurunan kekebalan tubuh. Seseorang yang mengalami penyakit autoimun, seperti HIV/AIDS, memiliki risiko terinfeksi cacar api yang lebih besar. Di samping itu, cacar air juga banyak diderita oleh kelompok lansia, yang mana kekebalan tubuhnya sudah tidak seprima ketika mereka masih muda.

Menjaga daya tahan tubuh dan vaksinasi adalah kunci terbebas dari infeksi cacar. Pencegahan dengan melakukan vaksin maupun anti virus juga perlu dilakukan agar mengurangi peluang terinfeksi cacar. Penting untuk dicatat, bahwa pola hidup sehat dan menjaga kebugaran serta daya tahan tubuh, merupakan faktor terpenting untuk terbebas dari infeksi penyakit ini.