Apakah Mudah Marah Tanda Depresi? Tanya Psikolog

Setiap orang pasti pernah merasa marah dalam hidupnya. Kejadian tersebut biasanya hanya terjadi sebentar saja. Namun, terkadang rasa marah dapat terus ada. Marah jangka panjang dapat menjadi sebuah tanda Anda menderita depresi. Para peneliti telah menemukan sebuah hubungan antara rasa marah dan depresi. Dalam sebuah studi lama tahun 1998, para peneliti memantau orang-orang yang menderita depresi, dan ditemukan bahwa sepertiga dari mereka mengalami episode marah yang terjadi dengan tiba-tiba. Apabila Anda sering marah, mungkin ada baiknya untuk berkonsultasi dan tanya psikolog seputar kondisi yang dimiliki. 

Image result for dokter psikolog
source: harga.web.id

Gejala marah dan depresi

Marah adalah sebuah perasaan yang Anda miliki yang sering terjadi setelah periode jangka pendek. Gejala marah di antaranya adalah detak jantung yang cepat, tekanan darah yang meningkat, perilaku agresif, dan mengamuk. Sementara itu, depresi adalah perasaan kesedihan yang mendalam atau keputusasaan yang konsisten yang bertahan selama beberapa minggu atau lebih lama. Gejala depresi yang dapat dirasakan di antaranya adalah mudah marah, merasa bingung dan sedih, penurunan atau pertambahan berat badan yang ekstrim, hilangnya energi, hilangnya ketertarikan akan hal-hal yang biasanya Anda sukai sebelumnya, nyeri tubuh dan persendian yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya, dan pikiran untuk melukai diri atau melakukan bunuh diri. Jika, Anda mengalami gejala tersebut sebelumnya, ada baiknya untuk berkonsultasi dan tanya psikolog mengenai gejala tersebut. Orang-orang yang mengalami rasa marah dan depresi dapat meredam perasaan marah mereka. Mereka juga dapat menunjukkan rasa marah lewat agresi atau kekerasan pada orang yang tercinta, misalnya pasangan. Carilah bantuan dan tanya psikolog apabila Anda mulai berfantasi untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain. 

Hubungi dan kunjungi dokter apabila Anda mengalami depresi atau memiliki rasa marah terus menerus. Dokter akan membantu menentukan apakah Anda mengalami sesuatu yang akan hilang dengan sendirinya atau apakah Anda membutuhkan perawatan tambahan khusus. Rasa marah juga dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan fisik atau mental. Hubungi dokter atau tanya psikolog dapat menjadi satu-satunya cara mengetahui secara pasti apa yang sedang Anda alami. 

Apabila dokter merasa episode marah Anda dipicu oleh situasi atau orang tertentu, rekomendasi perawatan dapat melibatkan menghindari apa yang menjadi pemicu rasa marah tersebut. Dokter juga dapat merekomendasikan perubahan gaya hidup, seperti latihan pernapasan yang dapat Anda lakukan apabila Anda mulai marah. Dokter juga dapat merekomendasikan Anda untuk pergi keluar rumah untuk mendapatkan udara segar atau berjalan-jalan untuk menenangkan pikiran. Hal-hal tersebut dapat membantu mengatur rasa marah dan perlahan membuat Anda tidak berfokus terhadap apa yang memicu rasa marah. 

Apabila Anda terus merasa marah dalam waktu 2 minggu atau lebih dan tidak mudah hilang, Anda mungkin perlu perawatan tambahan. Dokter dapat merekomendasikan Anda untuk menemui terapis kesehatan mental. Mereka dapat bekerja bersama Anda dalam memahami dan mengatasi rasa marah tersebut. Anda juga bisa tanya psikolog seputar apa saja yang perlu dilakukan untuk mengontrol depresi. Dokter dapat merekomendasikan obat resep untuk merawat depresi. Namun, yang paling penting adalah apabila Anda merasa memiliki masalah dalam mengontrol marah atau depresi, jangan hadapi kondisi tersebut seorang diri. Bicarakan masalah Anda dengan orang terdekat yang Anda percaya, misalnya keluarga atau teman, atau bahkan dokter. Lakukan latihan pereda stres dan minum obat-obatan yang telah diresepkan oleh dokter.

Mengenal Gangguan Knversi Yang Disebabkan Oleh Stres

Gangguan konversi terjadi ketika seseorang mengalami gejala fisik sementara, misalnya kebutaan atau lumpuh, yang tidak memiliki penyebab fisik apapun. Meskipun penyebab utama gangguan konversi tidak diketahui saat ini, para peneliti percaya bahwa gangguan konversi terjadi sebagai respon tubuh terhadap trauma psikologi, fisik, dan mental atau situasi yang dapat menyebabkan stres. Kondisi ini sering disebut dengan istilah gangguan saraf fungsional. Gejala yang terjadi di antaranya adalah tubuh gemetar, lumpuh, ataupun pandangan ganda. Salah satu contoh adalah tubuh gemetar tidak terkontrol setelah kejadian traumatis, misalnya menjadi saksi mata kecelakaan mobil, meskipun tidak ada alasan fisik untuk tubuh gemetar. 

Beberapa pemicu terjadinya gangguan konversi di antaranya adalah kejadian-kejadian yang dapat menimbulkan stres, trauma fisik ataupun emosional, dan perubahan pada fungsi otak dalam level metabolisme, sel, dan struktural. Gangguan konversi juga dapat terjadi ketika tidak ada pemicu yang jelas sama sekali. Akan tetapi, penyebab utama gangguan konversi bervariasi dari satu orang ke orang lain. Dengan para peneliti menspesifikasikan bahwa penyebab utama kondisi ini adalah situasi yang membuat stres, alasan medis utama gangguan konversi masih tidak diketahui hingga saat ini. 

Gejala yang dapat terjadi

Gejala gangguan konversi dapat bervariasi, tergantung jenis gangguan saraf fungsional tersebut; dan terkadang gejala tersebut cukup signifikan sehingga dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari serta membutuhkan evaluasi medis secepatnya. Gejala-gejala tersebut dapat memengaruhi fungsi dan gerakan tubuh serta panca indera penderitanya. Beberapa gejala yang dapat memengaruhi fungsi dan gerakan tubuh di antaranya adalah tubuh terasa lemah ataupun lumpuh, gerakan yang tidak normal seperti tremor dan kesulitan bergerak, kehilangan keseimbangan, kesulitan menelan ataupun adanya rasa mengganjal di tenggorokan, kejang dan hilang kesadaran, dan beberapa episode yang tidak responsif. Sementara itu, ada pula gejala atau tanda gangguan konversi yang memengaruhi panca indera, seperti mati rasa atau hilangnya sensasi terhadap sentuhan, gangguan bicara atau kesulitan bicara, gangguan penglihatan (pandangan ganda atau kebutaan), dan gangguan pendengaran atau tuli. 

Penyebab dan faktor risiko

Penyebab utama gangguan saraf fungsional atau gangguan konversi tidak diketahui hingga saat ini. Teori mengenai apa yang terjadi di otak untuk menyebabkan gejala-gejala tersebut sangat kompleks dan membutuhkan beberapa mekanisme yang berbeda, tergantung dengan jenis gangguan konversi yang dimiliki. Pada dasarnya, beberapa bagian dari otak yang mengontrol fungsi kerja otot dan indera mungkin dapat terlibat, meskipun tidak ada penyakit ataupun ketidaknormalan tertentu. Beberapa gejala gangguan konversi dapat terjadi tiba-tiba setelah adanya kejadian stres, atau bersamaan dengan trauma fisik dan emosional. Beberapa pemicu lain termasuk perubahan atau gangguan pada bagaimana otak berfungsi pada level struktural, sel, dan metabolisme. Namun pemicu dari gejala tersebut tidak selamanya dapat diidentifikasi. 

Sementara itu, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan konversi di antaranya adalah apabila seseorang memiliki gangguan atau penyakit saraf, seperti epilepsy, migrain, ataupun gangguan pergerakan; memiliki stres atau trauma fisik dan emosional yang terjadi baru-baru ini; memiliki kondisi gangguan kesehatan mental, seperti depresi, gangguan kecemasan dan suasana hati, gangguan dissociative, dan gangguan kepribadian tertentu; memiliki anggota keluarga yang menderita gangguan konversi, dan kemungkinan memiliki riwayat mendapatkan kekerasan fisik atau pelecehan seksual di masa lalu. Selain itu, wanita memiliki risiko menderita gangguan saraf fungsional lebih tinggi dibandingkan dengan pria.

5 Tips Bangun Self Care untuk Kontrol Kecemasan

5 Tips Bangun Self Care untuk Kontrol Kecemasan

Rasa cemas memang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia, Namun berhati-hatilah, apabila rasa cemas menjadi tidak terkendali, kondisi tersebut bisa menyeret Anda ke berbagai masalah mental maupun kesehatan fisik. Untuk bisa mengontrolnya, salah satu yang bisa Anda upayakan adalah membangun self care sehingga Anda lebih menjaga dan menyayangi diri sendiri. 

Self care menjadi gerakan yang tengah populer di media sosial. Namun sebenarnya, konsep self care sendiri sudah lama dikenal dalam dunia psikologi. Lewat self care, Anda diarahkan menjadi pribadi yang menghargai dan “memanjakan” diri sendiri sehingga memiliki usaha lebih untuk menyingkirkan segala hal yang bisa mengganggu kesehatan mental maupun raga Anda. 

Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa gerakan cinta diri ini mampu mengurangi tingkat kecemasan seseorang. Kecemasan berkurang karena seseorang lebih fokus membahagiakan dirinya sendiri dibandingkan mengkhawatirkan pandangan dan komentar orang-orang di luar dirinya. Cara memulai self care pun sebenarnya tidaklah sulit. Berikut ini adalah beberapa cara mudah di mana Anda bisa menumbuhkan dan memberi rasa cinta kepada diri sendiri. 

  1. Olahraga Ringan 

Jangan memandang bahwa olahraga adalah bentuk self care untuk bisa menjaga kebugaran fisik. Nyatanya, gerakan cinta diri yang satu ini juga mampu memperbaiki suasana hati Anda sehingga kecemasan bisa diusir sedikit demi sedikit. Tidak harus pergi ke gimnasium untuk berolahraga. Berolahraga ringan secara rutin setiap hari dengan berjalan kaki ataupun yoga dari rumah saja sudah sangat ampuh menjadi bentuk rasa cinta terhadap raga dan mental Anda. 

  1. Tidur Cukup 

Tidur cukup dan memadai tiap hari dengan rentang waktu 7—8 jam bisa menjadi jawaban untuk mencintai diri sendiri. Pasalnya dengan tidur, otak Anda akan mengeluarkan racun, mengonsolidasikan memori, juga membangun jalan saraf agar lebih lancar. Alhasil, Anda akan mendapatkan tubuh yang lebih bugar ketika bangun karena semua rasa lelah telah terhapus. Anda pun akan lebih memahami apa keinginan diri sehingga rasa stres dari hari-hari sebelumnya bisa ditekan. 

  1. Solo Traveling 

Pernah mencoba melakukan solo traveling atau bepergian seorang diri? Cobalah kegiatan ini sesekali dan Anda akan menyadari banyak hal dalam diri Anda yang patut disyukuri. Solo traveling tidak hanya mampu menenangkan pikiran Anda atas berbagai kesibukan sehari-hari. Bepergian seorang diri, bahkan hanya di kawasan yang dekat dengan tempat tinggal Anda, bisa membuat Anda sadar bahwa diri Anda begitu berharga dan mesti mendapatkan apresiasi utamanya dari diri sendiri. 

  1. Lakukan Hobi 

Apa hobi Anda selama ini? Jangan berpikir bahwa hobi hanya bisa dilakukan di waktu senggang. Sebagai upaya membangun self care, cobalah menjadwalkan melakukan hobi 2—3 kali seminggu secara rutin. Anda suka berkebun, berkebunlah dengan hati riang. Hobi Anda bermain gim, tidak ada salahnya pula melakukan hal tersebut. Melakukan hobi bisa membuat tingkat stres menjadi terasing. Berbagai penyebab kecemasan yang Anda takuti pun bisa Anda hindari sejenak ketika melakukan hal-hal yang Anda senangi. Rasa senang ketika melakukan hobi pun dapat membuat Anda lebih bersemangat selepas selesai melakukannya. 

  1. Jalankan Perawatan Diri 

Perawatan diri yang dimaksud adalah berbagai upaya yang bisa membuat tubuh dan pikiran Anda menjadi lebih sehat dan terbaharui. Merawat diri bisa Anda lakukan dengan melakukan pijat untuk merilekskan badan. Namun, perawatan rutin dengan mengonsumsi makanan sehat tiap hari agar tubuh dan jiwa tidak sakit pun patut Anda lakukan sebagai bentuk self care!

*** 

Self care sejatinya adalah upaya mencintai diri sendiri dengan cara sehari-hari. Dengan merasa diri dicintai, berbagai faktor kecemasan pun bisa diredam. Pasalnya ketika Anda menyadari bahwa diri Anda layak dicintai, Anda akan lebih membentuk pertahanan agar tidak ada faktor dari luar yang dapat mengguncang fisik dan jiwa Anda secara berlebihan.

Rasa Takut Dapat Dialami Semua Orang. Bagaimana Cara Mengatasinya?

rasa takut

Emosi yang dihasilkan oleh manusia bemacam-macam, salah satunya adalah takut. Saat mengalami rasa takut, seseorang akan lebih waspada sebab biasanya merasakan adanya ancaman bahaya. Kombinasi reaksi tubuh dengan reaksi emosional akan muncul ketika seseorang merasa takut. Reaksi biokimia karena takut disebut fight or flight yang artinya tubuh telah mempersiapkan diri untuk melawan bahaya atau kabur. Sedangkan reaksi emosional karena rasa takut akan berbeda pada masing-masing orang.

Penyebab rasa takut

Rasa takut bisa disebabkan oleh bentuk pertahanan diri yang terjadi secara alami ketika merasakan adanya bahaya. Selain itu, kondisi traumatis masa lalu seseorang secara psikologis juga dapat memicu terjadinya rasa takut. Beberapa hal yang biasanya menjadi penyebab rasa takut yaitu:

  • Ancaman bahaya dari lingkungan
  • Membayangkan hal yang mungkin terjadi di masa depan
  • Kejadian yang hanya ada dalam imajinasi
  • Situasi tertentu seperti ketinggian atau tempat gelap
  • Objek tertentu seperti hewan

Reaksi yang muncul karena rasa takut

Reaksi karena rasa takut pada masing-masing orang bisa berbeda sebab takut adalah emosi yang sangat kompleks. Akan tetapi reaksi umum yang muncul karena rasa takut biasanya mirip dan sama pada setiap orang. Untuk reaksi fisiologis biasanya orang akan merasa kewalahan, marah, dan terkendali. Sedangkan beberapa reaksi fisik karena rasa takut yaitu:

  • Menggigil
  • Nyeri dada
  • Mual
  • Keringat dingin
  • Mulut terasa kering
  • Detak jantung cepat
  • Napas tersengal-senagal

Rasa takut dan gangguan kecemasan

Rasa takut berlebihan memiliki kaitan yang cukup erat dengan gangguan kecemasan yang mungkin dialami oleh seserorang. Untuk menentukan apakah rasa takut tersebut disebabkan oleh gangguan kecemasan dibutuhkan pemeriksaan. Dokter biasanya akan membutuhkan data seputar situasi pemicu rasa takut, intensitas yang dirasakan, serta sejak kapan rasa takut tersebut dirasakan. Beberapa jenis gangguan kecemasan karena rasa takut di antaranya:

  • Kecemasan sosial
  • Agoraphobia
  • Post-traumatic Stress disorder (PTSD)
  • Serangan kepanikan
  • Phobia spesifik
  • Gangguan kecemasan terhadap perpisahan

Cara mengatasi rasa takut berlebihan

Rasa takut jenisnya bermacam-macam. Rasa takut akan masa depan atau kematian merupakan rasa takut yang munculnya perlahan dan tidak mendadak. Rasa takut yang muncul perlahan tersebut bisa diatasi dengan beberapa cara seperti berikut ini.

  • Belajar untuk berpikir positif dan meyakini bahwa semua hal akan baik-baik saja. Dengan terus berpikir positif maka Anda akan lebih percaya diri dan membuat rasa takut berangsur menghilang.
  • Beranikan diri menghadapi rasa takut yang muncul. Apabila Anda hanya terus kabur dari rasa takut, maka selamanya ketakutan tersebut akan menghantui. Dengan menghadapi sumber pemicu maka seiring berjalannya waktu, rasa takut yang dialami akan berkurang dan akhirnya bisa hilang.
  • Biasakan bernapas dengan teratur. Napas merupakan kunci untuk membuat tubuh dan pikiran menjadi lebih tenang. Untuk bisa tetap mengatur napas dengan mudah pada kondisi tertentu, Anda dapat mulai berlatih meditasi atau yoga secara rutin.
  • Bercerita pada orang lain tentang ketakutan yang dirasakan. Rasa takut bisa menjadi beban berat apabila Anda menyimpannya sendirian. Anda dapat bercerita pada teman, pasangan, atau keluarga.

Rasa takut merupakan hal wajar yang akan dialami oleh siapa saja ketika ada pemicunya. Umumnya perasaan takut tersebut akan menghilang seiring berjalannya waktu. Jika rasa takut sudah semakin berlebihan dan mengganggu keseharian Anda maka sebaiknya kunjungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Rasa takut berlebihan dan bertahan lama bisa menjadi indikasi adanya gangguan medis tertentu baik dari segi fisik atau psikis. Anda juga dapat melakukan konsultasi secara online melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.

Memahami Perbedaan IQ Vs EQ

Memahami Perbedaan IQ Vs EQ

Dahulu menilai kecerdasan seseorang umumnya hanya dilihat dari kecerdasan kognitifnya yang dapat ditampilkan dari hasil tes intelligence quotient (IQ). Namun semenjak istilah emotional quotient (EQ) mulai digaungkan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995, perdebatan mengenai mana yang lebih penting antara IQ vs EQ pun mulai menyeruak. 

Banyak orang masih kukuh bahwa IQ adalah pusat kecerdasan dari otak yang dapat menarik seseorang ke langkah kesuksesan. Namun pendapat lain mengatakan, semua kecerdasan kognitif tidak akan berguna jika tidak didampingi oleh kecerdasan emosional. Karena itulah, EQ menjadi lebih penting untuk menentukan masa depan seseorang. 

Perdebatan mana yang lebih unggul antara IQ vs EQ pun masih ada sampai saat ini. Namun daripada hanya terperangkap dalam perdebatan yang tidak ada ujungnya, menjadi lebih bijak apabila Anda mengetahui perbedaan mendasar antara kedua jenis kecerdasan tersebut. Berikut ini adalah beberapa perbedaan yang melingkupi IQ vs EQ. 

Definisi Kecerdasan 

Sesuai namanya, ada perbedaan mendasar antara definisi IQ vs EQ. IQ merupakan skor dari tes kecerdasan kognitif yang menunjukkan usia mental seseorang berdasarkan usia kronologis dengan nilai skor yang dibuat sedemikian rupa. Dari skor IQ dapat dilihat seberapa kuat penalaran logis tiap individu. 

Sementara itu, EQ merupakan kemampuan seseorang mengidentifikasi emosinya sendiri maupun emosi lain. Dari ukuran tingkat kecerdasan emosional ini, dapat dilihat bagaimana seorang individu menggunakan emosinya untuk memandu pemikiran dan berperilaku.

Asal Kecerdasan 

Skor IQ seseorang pada umumnya akan sama dari waktu ke waktu. Perbedaan kecil akan muncul hanya apabila stamina individu cukup terganggu selama tes sehingga berpengaruh pada kemampuan berpikirnya. Nilai IQ yang cenderung sama pada seseorang dikarenakan kecerdasan kognitif merupakaan bawaan lain. 

Ini berbeda dengan EQ. Skor EQ seseorang bisa saja sangat berbeda jauh dari waktu ke waktu. Nilainya bisa membesar ataupun mengecil. Pasalnya, EQ merupakan kecerdasan emosional yang berasal dari latihan. Semakin sering Anda melatih untuk mengontrol dan mengelola emosi Anda, semakin besar pula skor EQ yang dapat Anda peroleh. Begitupun sebaliknya, jika Anda tidak pernah melatihnya, ada kemungkinan nilai EQ Anda akan jeblok

Kemampuan 

Perbedaan kemampuan inilah yang kerap memicu debat antara IQ vs EQ karena tiap orang mencari kemampuan mana yang lebih unggul. Padahal, baik IQ maupun EQ menunjukkan kemampuan yang berbeda di suatu individu yang sama. 

Sesuai namanya yang merujuk pada kecerdasan kognitif, skor IQ lebih memperlihatkan bagaimana seseorang mempelajari, memahami, dan menerapkan pengetahuan. Kemampuan seseorang untuk bernalar secara logis pun dapat terlihat dari nilai IQ. Lain hal dengan nilai EQ, di mana kecerdasan emosional lebih menunjukkan bagaimana seseorang mengenali, mengendalikan, serta mengekspresikan emosinya sendiri. Lewat nilai EQ, dapat terlihat pula bagaimana kemampuan individu tersebut dalam menilai dan merasakan emosi orang lain. 

Ranah Kesuksesan 

Ranah kesuksesan yang dapat dipastikan dari nilai IQ vs EQ tidaklah serupa. Dari berbagai pengamatan, seseorang dengan nilai IQ tinggi cenderung bisa dipastikan sukses selama mengenyam bangku pendidikan. Pasalnya, ia akan lebih mudah mengerti pelajaran dan menerapkannya dalam ujian. 

Sementara itu, orang-orang dengan EQ tinggi justru belum tentu sukses di sekolah. Namun dengan kecerdasan emosional yang tertata baik, orang-orang dengan nilai EQ tinggi diyakini mampu sukses dan bertahan di kehidupan bermasyarakat. 

*** 

Dengan mengenal perbedaan IQ vs EQ, Anda akan menyadari bahwa apa yang dilihat dan dihasilkan dari kedua kecerdasan ini sama pentingnya. Daripada memperdebatkan mana yang lebih penting, menjadi lebih baik apabila Anda berupaya menjaga IQ Anda sekaligus meningkatkan EQ dari waktu ke waktu.

Mengenal Autophobia, Rasa Takut Terhadap Kesendirian

autophobia

Dalam ilmu psikologi, ada banyak sekali jenis-jenis fobia yang bisa dialami oleh seseorang. Di antara sekian banyak fobia, Anda mungkin asing dengan jenis fobia bernama autophobia, yaitu rasa takut terhadap kesendirian.

Terkadang, autophobia disebut juga dengan monophobia. Jenis fobia ini menyebabkan seseorang merasa cemas dengan kesendirian, atau takut merasa kesepian. Bahkan, di tempat yang nyaman seperti di rumah sekalipun, kecemasan ini dapat tetap timbul.

Tanda-tanda seseorang mengalami autophobia

Beberapa dari Anda mungkin pernah merasa kesepian. Tapi, jangan menyalahartikan rasa kesepian itu sebagai fobia terhadap kesendirian, karena kedua hal itu adalah hal yang berbeda.

Supaya Anda lebih mudah mengetahui apabila Anda menderita fobia kesendirian atau tidak, berikut ini beberapa gejala dari autophobia:

  • Khawatir berlebih tentang kesendirian
  • Gemetar, berkeringat, nyeri dada, dan jantung berdebar ketika sendirian
  • Keinginan yang luar biasa untuk melarikan diri ketika Anda sendirian
  • Takut dan mencemaskan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi apabila Anda terpaksa sendirian
  • Merasa terlepas dari tubuh ketika sendirian
  • Perasaan teror atau takut yang sangat ekstrem saat akan sendirian

Perlu diingat, autophobia tidak sama dengan merasa kesepian. Kesepian mengacu pada emosi negatif yang muncul ketika seseorang merasa bahwa mereka memiliki terlalu sedikit interaksi sosial dan koneksi yang berarti.

Hal ini membuat seseorang bisa saja merasa kesepian bahkan ketika mereka sedang tidak benar-benar sendiri, atau saat sedang bersama dengan orang lain di waktu tertentu.

Ketika Anda mengalami autophobia, rasa cemas yang muncul akan lebih parah dari sekedar emosi negatif. Kecemasan ini dipicu oleh pikiran yang membayangkan Anda terpaksa menghabiskan waktu sendirian.

Rasa cemas ini akan sangat berbeda dengan cemas yang muncul ketika Anda merasa kesepian.

Proses pengobatan untuk penderita autophobia

Sama seperti jenis fobia lainnya, penderita fobia terhadap kesendirian akan menerima pengobatan utama melalui psikoterapi. Ada beberapa jenis psikoterapi yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Terapi paparan

Terapi yang satu ini dijalankan dengan memaparkan pemicu fobia secara langsung kepada penderita. Artinya, penderita akan diarahkan untuk sendirian selama beberapa waktu dan beberapa kali.

Sebagian orang yang mengalami fobia mungkin berusaha menghindari sumber pemicu fobia tersebut. Akan tetapi, hal ini justru tidak tepat. Terapi paparan berguna untuk membiasakan Anda dan meningkatkan toleransi Anda terhadap gagasan mengenai kesendirian.

Tujuan dari terapi ini adalah peningkatan kualitas hidup penderita, sehingga fobia tidak lagi membatasi atau menghambat kegiatan Anda sehari-hari.

  • Terapi perilaku kognitif

Terapi ini lebih dikenal sebagai Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Dalam CBT, terapis Anda akan membuat Anda terpapar dengan sumber fobia. Kemudian, mereka akan memberikan arahan mengenai cara menghadapi dan mengatasi kesendirian yang membuat Anda merasa takut.

Dalam CBT, pola pikir Anda akan diarahkan atau dibentuk agar lebih realistis. Dengan begitu, Anda bisa menghadapi fobia dengan lebih percaya diri.

Para penderita fobia yang menjalani terapi CBT akan merasa lebih ringan atau tidak terbebani ketika harus berhadapan dengan sumber pemicu fobia mereka.

  • Obat-obatan

Selain terapi, pengobatan juga bisa dilakukan dengan konsumsi obat-obatan. Biasanya, obat yang diberikan memiliki peran untuk mengendalikan gejala, tapi tidak bisa menyembuhkan secara total.

Obat yang palign sering digunakan untuk penderita autophobia adalah beta blocker untuk memblokir stimulasi adrenalin dalam tubuh, serta sedatif untuk meminimalkan jumlah kecemasan yang muncul.

Selain pengobatan secara medis, perawatan autophobia juga bisa dimaksimalkan dengan perawatan di rumah. Konsultasikan dengan dokter mengenai upaya perawatan di rumah yang tepat untuk kondisi Anda.

Plus Minus yang Tersimpan di Balik Kepribadian ENTP

Orang dengan kepribadian ENTP cenderung ekspresif dan suka menyampaikan pendapatnya

Klasifikasi atau pengelompokan kepribadian manusia yang jumlahnya beragam pernah dilakukan oleh dua orang psikolog asal Amerika, Katherine Briggs dan Isabel Myers. Sampai saat ini, klasifikasi yang diberi nama “Myers-Briggs” itu masih banyak digunakan sebagai rujukan. “Myers-Briggs” mengenali kepribadian ENTP dari total 16 karakter manusia menurut mereka.

Namun, kepribadian ENTP termasuk jenis yang langka di dunia. Orang dengan kepribadian ini tidak lebih dari 2 sampai 5 persen saja dari total populasi dunia. Angka itu muncul berdasarkan perkiraan dari seorang psikolog asal Amerika pula, David Keirsey.

ENTP sendiri merupakan singkatan dari gabungan sifat pembentuk kepribadian tersebut. Huruf ‘E’ mewakili extraverted atau ekstrovert; ‘N’ mewakili intuitive atau intuitif; ‘T’ mewakili thinking atau berpikir; serta ‘P’perceiving atau melihat.

Jadi, secara garis besar orang yang memiliki kepribadian ENTP akan selalu terlihat energik atau bersemangat lantaran sifat ekstrovert, cenderung bergerak berdasarkan “bisikan hati”, logis dan mengedepankan hal-hal empiris, dan luwes lantaran kemampuannya melihat keadaan, kondisi, dan situasi yang tengah terjadi.

Sebenarnya, berdasarkan kesimpulan di atas, hampir tidak ada sesuatu yang “jelek” dari orang-orang berkepribadian ENTP. Masalahnya, kita harus kembali ke hukum, “tidak ada yang sempurna” di atas dunia ini. Beberapa hal yang ada di dalam diri ENTP memiliki kans untuk berubah menjadi negatif apabila tak mampu dikelola dengan cermat dan hati-hati.

Nah, di bawah ini ada beberapa hal yang dikatakan sebagai kelebihan dan kelemahan orang-orang yang memiliki kepribadian ENTP:

  • Kelebihan Seorang ENTP

Cukup mudah menemukan kelebihan dari seseorang yang berkepribadian ENTP. Salah satu yang paling menonjol adalah mereka mudah mendapat ide-ide baru. Bahkan ia bisa berpikir jauh ke depan dengan ide dan gagasan tersebut. 

Selain inovatif dan kreatif, berikut antara lain kelebihan milik orang berkepribadian ENTP:

  • Mudah diajak ngobrol;
  • Menyukai debat;
  • Sangat menjunjung pentingnya pengetahuan;
  • Mudah mempelajari hal-hal yang dianggap menarik;
  • Pola pikirnya sangat fleksibel;
  • Bisa berpindah pembicaraan dengan cepat dan menelaahnya dengan cekatan;
  • Pemikirannya jauh dan biasanya menemukan hal-hal baru dengan ide kreatifnya;
  • Mampu menganalisa masalah dari berbagai sudut pandang;
  • Mampu memberikan solusi terbaik pada tiap masalah;
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk menarik perhatian orang lain;
  • Tingkat kepercayaan dirinya tinggi;
  • Penuh energi dan antusiasme tinggi membuat mereka tahan bekerja siang malam.

Bila Anda merupakan seseorang dengan kepribadian ENTP, memanfaatkan kelebihan di atas untuk mengembangkan dan membuat Anda terus melangkah maju.

  • Kekurangan Seorang ENTP

Kadang karena sikapnya yang kurang peka, seorang ENTP dianggap kurang ramah. Walau bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan banyak orang, tapi karena kadang terlalu suka berdebat dan agak keras kepala, dia bisa dijauhi oleh beberapa orang.

Lebih dari itu, berikut ini beberapa kekurangan yang dimiliki orang dengan kepribadian ENTP: 

  • Tidak menyukai rutinitas dan segala yang terjadwal;
  • Tidak suka diatur-atur;
  • Kurang bisa menjaga fokus;
  • Kurang peka;
  • Bisa sangat keras kepala mempertahankan opini atau pendapatnya;
  • Terlalu berfikiran argumentatif jadi sering menciptakan perdebatan;
  • Pikiran terlalu rasional akibatnya mengabaikan perasaan orang;
  • Kurang toleransi terhadap pendapat orang lain, memegang teguh pendapat sendiri;
  • Sering menolak ide orang lain jika tidak sejalan dengan yang ia miliki;
  • Jarang menyelesaikan ide yang dibangun dari awal karena mudah berpindah-pindah ide;
  • Cenderung keras kepala dan ngotot.

Selain itu, salah satu kekurangan seorang ENTP adalah jarang bisa menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai karena lebih fokus pada gambaran utuh dari sesuatu yang akan terjadi di masa depan.

***

Perlu diingat bahwa kekurangan dan kelebihan kepribadian ENTP di atas sifatnya masih amat diperdebatkan. Maksudnya, belum tentu poin yang ada di kolom kelebihan benar-benar merupakan “kelebihan”, begitu juga yang ada di kolom “kekurangan”.

Sebab, kelebihan dan kekurangan merupakan nilai yang abstrak. Ia amat tergantung dari berbagai hal yang mempengaruhi individu tersebut. Seperti pemaknaan, pengaruh budaya, sejarah, atau pengalaman-pengalaman si kepribadian ENTP yang bersangkutan.